My Electrocity

Standar

Nama : Rabiatul Adawiah

Kelas : XI IA 3

Hasil Permainan Elektrocity

 

Kebijakan yang saya ambil pada setiap turn.

Langkah

Kebijakan

Langkah

Kebijakan

1

Build wind farm

76

2

77

Build Rich Farmland and upgrade 1 beach

3

78

4

79

Build Holiday Park and build CoGen Paper Mil

5

80

6

81

Build CoGen Farmland

7

82

8

83

9

84

10

Build small hydro plant, Build large wind farm

85

11

86

12

87

13

88

14

89

Build Marine Generator and Build CoGen Farmland

15

Build farm land

90

16

91

17

92

18

93

19

94

20

95

Build Wind Farm and build marine generator

21

96

22

97

23

98

24

99

25

100

26

build small hydro plant

101

27

102

28

103

29

104

30

105

31

106

32

107

33

Upgrade small hydro plant

108

Destroyed Alumunium Smelter and Plant Forest

34

109

35

110

36

111

37

112

Build Large wind farm

38

Upgrade small hydro plant

113

39

Build camp ground

114

40

115

41

116

42

117

43

118

44

Build beach

119

45

120

46

121

47

122

48

123

49

Upgrade small hydro plant

124

50

125

51

126

52

127

53

Upgrade small hydro plant

128

54

129

55

Build beach

130

56

Build National Park

131

57

132

58

Build Paper Mil

133

59

134

60

Build Beach

135

61

136

62

137

63

Build Beach

138

64

Upgrade 2 Beachs

139

65

Build Alumunium Smelter

140

66

141

67

Build National Park and upgrade 1 beach

142

68

143

69

144

70

145

71

Upgrade 3 beachs and build ski field

146

72

147

73

Upgrade 1 beach and build holiday park

148

74

Build ski field and build camp ground

149

75

150

Keterangan : Setiap turn yang kebijakannya kosong berarti tidak ada kebijakan yang saya ambil dan saya langsung next turn agar uang yang saya miliki cukup untuk membangun sarana dan prasarana di kota saya.

Iklan

Kasih Tak Sampai

Standar

 

DRAMA SENI BUDAYA

KASIH TAK SAMPAI

Thea Desideria R.     Sebagai Zainab

Evan Kristanto G.   Sebagai Haji Iskandar (Ayah Zainab)

Gerry Giovanni B.   Sebagai Hamid

Jaka Apria T.            Sebagai Haji Mansyur

Rezekiana                  Sebagai  Hj. Zulaikha (Ibu Zainab)

Rabiatul Adawiah   Sebagai Annisa (Sepupu Zainab)

Louise Emy V.           Sebagai Salma (Anak Haji Mansyur)

Dewi Nora Fajra      Sebagai Hj. Salimah (Istri Haji Mansyur)

Vivi Monica               Sebagai Farida (Anak Haji Mansyur)

Helnida Zaini            Sebagai Mariam (Ibu Hamid)

 

Kelas         : XI IA 3

 

 

 

 

 

 

 

 

SMA NEGERI 2 PALANGKARAYA

 

 

 

KASIH TAK SAMPAI

 

Hamid dan Zainab berasal dari keluarga dengan tingkat sosial yang berbeda. Hamid hanya tinggal berdua dengan Ibunya, Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Zainab merupakan anak tunggal dari keluarga Haji Iskandar. Haji Iskandar dan istrinya Hj. Zulaikha adalah orang terpandang di desa mereka dan memiliki pabrik penggilingan padi yang sangat terkenal.  Namun, walapun begitu Zainab dan Hamid tetap berteman dengan baik dan bahkan ada terselip rasa lebih dari pertemanan di antara mereka berdua. Ibu Hamid bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Zainab dan Hamid pun seringkali membantu Ayah Zainab mengurus pabriknya. Walaupun bukan berasal dari keluarga yang berada, Hamid merupakan anak terpandai di desanya dan selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.

 

Pada suatu sore di rumah Zainab, terjadi percakapan antara Zainab dan orang tuanya.

Haji Iskandar      : “Bagaimana keadaan pabrik Zainab? Sudah lama Ayah tidak ke pabrik?”

Zainab                   : “Semuanya berjalan lancar Ayah, Ayah tidak perlu khawatir. Zainab akan mengurus pabrik, Ayah lebih baik memikirkan kesehatan Ayah”

Hj. Zulaikha         : “Benar apa kata Zainab, sebaiknya Ayah lebih memikirkan kesehatan daripada memikirkan keadaan di pabrik. Ibu yakin Zainab pasti bisa mengurusnya dengan baik.”

Haji Iskandar      : “Kalau memang seperti itu, baiklah. Ayah serahkan pabrik kepadamu Zainab. Minta tolonglah kepada Hamid apabila kau mendapatkan kesulitan dalam mengurus pabrik. Anak itu sangatlah pandai dan dapat diandalkan.”

Zainab                   : “Baiklah Ayah, saya akan meminta bantuan kepada Hamid apabila saya mendapatkan kesulitan dalam mengurus pabrik.”

Annisa pun datang dan membawakan makanan serta minuman.

Annisa                  : “Paman, Bibi ini saya bawakan makanan dan minuman”

Haji Iskandar      : “Terimakasih, Annisa.”

Annisa                  : “Sama-sama, paman. Maaf sebelumnya paman, tapi apa boleh saya berbicara sebentar dengan Zainab? Ada yang ingin saya bicarakan dengannya?”

Hj. Zulaikha         : “Apa yang ingin kalian bicarakan? Sepertinya sangat serius?”

Annisa                  : “Bukan masalah besar, Bibi. Saya hanya ingin meminta pertolongan Zainab untuk menemani saya berbelanja karena Bibi Mariam sedang tidak enak badan dan beliau sedang beristirahat sekarang”

Hj. Zulaikha         : “Kalau begitu keadaannya cepat Zainab kau temanilah Annisa. Kasihan Bibi Mariam, dia sudah terlalu tua untuk pekerjaan ini”

Zainab                   : “Baik Ibu. Saya permisi dulu. Assalamualaikum.”

Ayah dan Ibu     : “Waalaikum Salam. Hati-hati di jalan.”

 

Dalam perjalanan menuju pasar, tidak sengaja Zainab dan Annisa bertemu dengan Hamid.

Annisa                  : “Zainab, bukankah itu Hamid?”

Zainab                   : “Di mana? tidak mungkin itu Hamid. Bukankah setiap siang hari dia selalu mengajar anak-anak membaca?”

Annisa                  : “Iya, itu benar-benar Hamid, Zainab. Saya akan memanggilnya”

Zainab                   : “Annisa tidak perlu, mungkin dia sedang sibuk untuk apa kau memanggilnya?”

 

Annisa tidak mau mendengarkan perkataan Zainab dan langsung memanggil Hamid.

Annisa                  : “Hamid!!”

Hamid                   : “Annisa, Zainab? Saya tidak menyangka bertemu kalian di sini.”

Annisa                  : “Kami yang malah tidak menyangka kau ada di sini, Hamid. Terlebih-lebih lagi Zainab.”

Zainab                   : “Oh tidak seperti itu. Sedang apa kau di sini Hamid? Bukankah seharusnya kau mengajari anak-anak membaca?”

Hamid                   : “Saya sudah selesai mengajari mereka Zainab, saya ke pasar karena ingin membeli obat untuk Ibu saya. Beliau sedang tidak enak badan.”

Zainab                   : “Bagaimana keadaan Bibi Mariam? Apa penyakitnya parah, Hamid?”

Hamid                   : “Keadaannya baik-baik saja Zainab. Beliau hanya kelelahan saja, maklum beliau sudah tua.”

Annisa                  : “Uhm, maaf kalau misalnya saya mengganggu pembicaraan kalian, tapi Zainab kita harus segera pergi ke pasar kalau tidak,  saya tidak bisa memasak hari ini”

Hamid                   : “Annisa benar, kalau kita berbicara terus di sini, kalian bisa kehabisan bahan makanan yang dapat dibeli. Saya juga harus segera pulang untuk memberikan obat ini kepada Ibu saya di rumah”

Zainab                   : “Hati-hati di jalan Hamid. Sampaikan salam saya kepada Bibi Mariam.”

Hamid                   : “Baiklah Zainab, nanti akan saya sampaikan salammu kepada Ibu saya. Kalian juga harus berhati-hati.”

 

Annisa dan Zainab pun segera melanjutkan kegiatan mereka untuk berbelanja di pasar begitu pula Hamid. Ia segera pulang ke rumah dan memberikan obat kepada Ibunya yang sedang sakit.

 

Di rumah Hamid.

Hamid                   : “Assalamualaikum”

Ibu Mariam         : “Waalaikumsalam. Masuklah Hamid”

Hamid                   : “Bagaimana kedaan Ibu sekarang? Ini Hamid membelikan obat untuk Ibu, tetapi sebelumnya Ibu harus makan terlebih dahulu”

Ibu Mariam         : “Ibu tidak apa-apa, Hamid. Ibu hanya kelelahan saja. Kau tidak perlu khawatir, Ibu bisa menjaga diri Ibu sendiri.” (batuk)

Hamid                   : “Tapi Ibu? Perasaan Hamid tetap tidak tenang. Walaupun hanya sakit ringan tetapi Ibu tetap tidak boleh meremehkannya. Sekarang lebih baik Ibu minum obatnya lalu beristirahat, biar Hamid yang menggantikan tugas Ibu di rumah Haji Iskandar”

Ibu Mariam         : “Baiklah, Hamid. Ibu akan menuruti perkataanmu. Cepatlah kau pergi ke rumah Haji Iskandar. Kasihan Annisa dia pasti tidak dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.”

Hamid                   : “Baiklah, Ibu. Hamid permisi dulu. Assalamualaikum”

 

Hamid pun segera pergi ke rumah Haji Iskandar dan tidak sengaja berpapasan dengan Haji Mansyur yang juga hendak ke rumah Haji Iskandar. Haji Mansyur adalah salah satu orang terpandang di desa itu selain Haji Iskandar. Hartanya berlimpah ruah di mana-mana. Ia sudah memiliki istri yang bernama Hj. Salimah dan dua orang anak perempuan yang bernama Salma dan Farida.  Sesampainya Hamid di rumah Haji Iskandar, tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Haji Iskandar dan Haji Mansyur.

Haji Iskandar      : “Ada maksud apakah Haji Mansyur datang ke rumah saya? Karena tidak seperti biasanya anda datang ke rumah saya.”

Haji Mansyur     : “Tidak perlu seperti itu Haji Iskandar. Saya hanya ingin bertamu ke rumah anda.”

Hj. Zulaikha         : “Bertamu ke rumah kami? Apakah hanya itu maksud anda?”

 

Zainab pun datang dan membawa makanan serta minuman, Haji Mansyur pun langsung terpana melihat kecantikan Zainab dan langsung mengutarakan keinginannya yang sebenarnya.

Haji Mansyur     : “Baiklah, saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya sebenarnya kepada anda. Saya sudah mendengar kabar mengenai kecantikan anak anda, Zainab. Saya kira itu hanya kabar burung belaka, tetapi setelah saya melihat sendiri saya tidak meragukannya lagi. Anak anda memang sangat cantik, Haji Iskandar.”

Haji Iskandar      : “Terimakasih atas pujian yang anda berikan kepada anak saya, Haji Mansyur. Tapi saya masih belum mengerti apa maksud anda sebenarnya.”

Haji Mansyur     : “Maksud saya sangat sederhana, Haji Iskandar. Saya hendak melamar Zainab untuk menjadi istri saya. Apakah anda mengijinkannya?”

Hj. Zulaikha        : (terkejut) “Apa? Melamar Zainab? Anda tidak salah Haji Mansyur? Anak saya Zainab terlalu muda untuk anda jadikan istri, dan bukankah anda juga sudah memiliki istri dan dua orang anak, mereka pasti juga tidak setuju?”

Haji Iskandar      : (menenangkan istrinya) “sabar, bu. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Haji Mansyur. Kita juga harus menanyakannya dulu pada Zainab.”

Haji Mansyur     : (Tertawa) “Saya tidak salah. Saya memang ingin melamar Zainab. Tidak perlu memperdulikan keluarga saya, mereka pasti setuju.”

Haji Iskandar      : “Baiklah Haji Mansyur, saya akan menanyakannya dulu kepada Zainab. Tetapi apabila Zainab tidak setuju, saya tidak bisa memaksakannya.”

Haji Mansyur     : “Ayolah Haji Iskandar, seandainya kau merestui dan mengijinkan saya untuk menjadi menantu anda, saya jamin hidup keluarga anda akan semakin kaya dan makmur. Tapi baiklah kalau misalnya anda ingin menanyakannya terlebih dahulu kepada Zainab. Tapi asalkan anda tahu Haji Iskandar, saya termasuk orang yang tidak suka menunggu dan saya juga termasuk orang yang dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga anda dalam sekejap. Saya permisi dulu. Tiga hari lagi saya datang kembali ke sini. Assalamualaikum”

Haji Iskandar      : “Waalaikumsalam”

Hj. Zulaikha        : (Khawatir) “Aduh. Bagaimana ini Ayah? Zainab pasti tidak mau menikah dengan Haji Mansyur. Haji Mansyur orang yang tidak pernah main-main dengan ucapannya,yah.”

Haji Iskandar      : “Ayah juga bingung, bu. Tapi tidak ada salahnya kita menanyakannya kepada Zainab. Apabila dia tahu masalah yang sebenarnya, dia pasti mau menurutinya, bu.”

Hj. Zulaikha        : “Ibu harap juga seperti itu, yah”

 

Hamid pun akhirnya mengetahui niat Haji Mansyur datang ke rumah Haji Iskandar, dan sangat terkejut ketika mengetahui kalau Haji Mansyur ingin mempersunting Zainab untuk menjadi istrinya. Hamid pun langsung berlari menuju dapur dan bertemu Annisa yang sedang mempersiapkan makanan.

Hamid                                   : (Terengah-engah) “Annisa, apakah Zainab akan segera menikah? Dengan siapa dia akan menikah?”

Annisa                  : (Bingung) “Saya juga kurang  tahu, Hamid. Tapi setahu saya, paman dan Bibi memang akan segera mencarikan calon suami untuk Zainab. Untuk siapa orangnya, saya juga tidak  tahu, Hamid. Ada apa, Hamid? Mengapa kau menanyakan hal ini kepada saya?”

Hamid                   : “Oh, tidak ada apa-apa, Annisa. Saya hanya bertanya saja. Mari saya bantu.”

Annisa                  : “Iya, Hamid. Tolong bantu saya menyajikan makanan ini. Paman dan Bibi sudah menunggu. Maklum saya bekerja sendiri jadi tidak bisa cepat menyajikannya.”

Hamid                   : “Maafkan saya yang datang terlambat, Annisa.”

Annisa                  : “Tidak apa-apa, Hamid”

 

Haji Mansyur pun pulang ke rumahnya dan membicarakan tentang niatnya untuk  memperistri Zainab kepada istri dan kedua anaknya.

Farida                   : (Marah) “Apa?? Ayah ingin menikah lagi? Dengan Zainab? Tidak, Ayah tidak boleh menikah lagi. Ayah sudah tua dan sudah memiliki dua orang anak yaitu saya dan Salma.”

Salma                    : “Iya Ayah, Kak Farida benar. Ayah tidak boleh menikah lagi. Saya tidak ingin memiliki Ibu baru, Ayah.”

Haji Mansyur     : “Saya tidak perduli. Ini hak saya dan hidup saya. Buat apa kalian semua ikut campur. Kalian jangan takut kekurangan uang, saya tetap akan memberikan uang kepada kalian dan akan lebih banyak dari yang sebelumnya.”

Farida                                    : “Ini bukan masalah uang Ayah. Tapi apa Ayah tidak perduli sama sekali dengan kami semua? Ayah akan menikahi Zainab, Zainab itu terlalu muda Ayah, umurnya sama dengan saya. Ayah tidak seharusnya melakukan hal itu.”

Salma                    : “Mengapa Ibu diam saja? Apakah Ibu rela Ayah menikah lagi?”

Hj. Salimah         : “Kalau itu keinginan Ayahmu, Ibu tidak dapat melarangnya karena Ayahmu pasti tidak akan mendengarkan perkataan Ibu.”

Haji Mansyur     : (Tertawa) “Ibu kalian saja setuju, mengapa kalian tidak? Ya sudahlah, Ayah sangat lelah, Ayah ingin beristirahat.”

Farida                                    : “Ayah, dengarkan saya dulu. Ayah!!”

 

Haji Mansyur tetap bersikeras dengan keinginannya menikahi Zainab. Farida dan Salma sangat marah, namun seperti yang Ibunya katakan, Ayahnya pasti tidak akan mendengarkan perkataan mereka.

Farida                                                    : “Ibu, kenapa Ayah seperti itu Ibu? Zainab itu sangatlah muda, dan dia tidak pantas menjadi istri Ayah.”

Hj. Salimah         : “Ibu tahu, Farida. Tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak bisa mengatur apapun tentang Ayahmu. Kita harus merelakannya, Nak.”

Farida                                    : “Saya tidak mau, Ibu. Pokoknya saya akan terus melarang Ayah untuk menikah dengan Zainab.” (Pergi meninggalkan adik beserta Ibunya)

Salma                    : (Mengejar kakaknya) “Kak, Kak Farida. Tunggu Salma”

Keesokan harinya, di rumah Zainab. Haji Iskandar dan Hj. Zulaikha bermaksud untuk membicarakan masalah lamaran Haji Mansyur kepada Zainab.Tidak sengaja Bibi Mariam yang sudah kembali bekerja mendengarkan pembicaraan itu.

Haji Iskandar      : (Memanggil Zainab) “Zainab, tolong ke sini sebentar. Ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan.”

Zainab                  : “Ada apa, Ayah? Apa yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan?”

Hj. Zulaikha        : “Duduklah dahulu, Zainab.”

Zainab                  : “Baik, Bu.”

Haji Iskandar      : “Zainab, apakah kau sudah siap untuk menikah?”

Zainab                  : (Bingung) “Menikah? Ayah ingin Zainab menikah?”

Hj. Zulaikha        : “Begini Zainab. Kemarin ada seseorang yang hendak melamarmu. Tetapi kami harus menanyakannya terlebih dahulu kepadamu, Zainab.”

Zainab                  : “Siapakah gerangan yang melamar saya, Ayah?”

Haji Iskandar      : “Haji Mansyur, Zainab. Awalnya Ayah dan Ibu juga  tidak menyangka akan hal itu. Tetapi Haji Mansyur mengancam Ayah, Zainab. Ayah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sehingga Ayah menyetujuinya Zainab. Maafkan Ayah.”(sedih)

Zainab                  : (Terkejut) “Apa? Haji Mansyur Ayah? Dan Ayah menyetujuinya? Saya tidak mau Ayah, saya tidak mau dan sampai kapan pun saya tetap tidak akan menyetujuinya.”

Hj. Zulaikha        : “Kau harus mengerti keadaan kami, Zainab. Kami juga terpaksa menyetujuinya. Kalau sampai kami tidak setuju, Haji Mansyur akan menghancurkan  perekonomian kita.”

Zainab                  : “Jadi, Ayah dan Ibu lebih rela kehilangan Zainab daripada kehilangan uang?” (Terisak-isak) Ibu, Ayah,  Zainab tidak mau melawan keputusan kalian, tetapi Zainab benar-benar tidak ingin menikah dengan Haji Mansyur. Zainab tidak mencintainya.”

Haji Iskandar      : “Apa pentingnya cinta, Zainab? Cinta tidak akan membuat hidupmu terjamin. Hidupmu akan terjamin apabila kau menikah dengan beliau Zainab.”

Hj. Zulaikha        : “Benar yang Ayahmu katakan Zainab. Lebih baik kau menikah dengan Haji Mansyur.”

Zainab                  : “Tapi Ayah, Zainab sudah mencintai orang lain”

Haji Iskandar      : “Siapa orang itu, Zainab? Apakah orang itu sederajat dengan kita atau bahkan melebihi Haji Mansyur?”

Zainab                  : “Tidak Ayah. Dia bukanlah orang seperti itu. Dia tidak kaya tetapi dia sangat baik dan sangat pintar. Dia adalah Hamid, sudah lama aku menyimpan rasa untuknya, Ayah. Maafkan Zainab. Tapi Zainab benar-benar tidak bisa menikah dengan Haji Mansyur.”

Haji Iskandar      : (Terkejut dan marah) “Apa?? Hamid? Berani-beraninya kau mencintai orang seperti itu Zainab? Dia hanya anak pembantu, dia tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga ini.”

Zainab                  : “Zainab tidak menyangka Ayah seperti ini. Sejak kapan Ayah menilai seseorang dari kekayaannya? Walaupun Ayah bersikeras untuk menikahkan saya dengan Haji Mansyur, saya tetap tidak mau Ayah.” (meninggalkan Ayah dan Ibunya, lalu masuk ke kamarnya sambil terisak-isak)

Haji Iskandar      : (Marah) “Zainab!!Berani-beraninya anak itu.”

Hj. Zulaikha        : “Sabar, Ayah. Nanti Ibu akan membicarakannya lagi dengan Zainab. Tenangkanlah diri Ayah terlebih dahulu.”

Bibi Mariam yang mendengarnya pun langsung terkejut dan tidak menyangka bahwa Zainab, putri majikannya itu mencintai anaknya. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menemui anaknya, Hamid.

Bibi Mariam        : (Terengah-engah)  “Hamid, Hamid!”

Hamid                   : “Ada apa Ibu? Mengapa Ibu berlari-lari seperti ini. Apakah ada yang mengejar Ibu?”

Bibi Mariam        : “Tidak, Hamid. Tidak ada yang mengejar Ibu. Apa kau tahu sesuatu Hamid mengenai Zainab?”

Hamid                   : “Ada apa dengan Zainab, Bu? Apakah terjadi sesuatu?”

Bibi Mariam        : “Hamid, Zainab mencintaimu. Apakah kau tahu itu? Apakah kau juga memiliki perasaan yang sama seperti Zainab?”

Hamid                   : (Terkejut) “Apa? Zainab mencintaiku? Kalau saya boleh jujur kepada Ibu, saya juga memiliki perasaan yang sama seperti Zainab. Perasaan saya tidak bisa saya hindari lagi Ibu.”

Bibi Mariam        : “Masya Allah, Hamid. Apa kau sadar? Zainab dan kau bagaikan langit dan bumi yang sulit untuk dipersatukan. Kita tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga mereka, Hamid. Lupakanlah perasaanmu kepada Zainab dan buanglah mimpimu untuk bisa hidup bersamanya, Hamid.”

Hamid                   : “Tapi Ibu, sulit rasanya untuk melupakan perasaan ini Ibu. Saya sudah menyimpannya selama bertahun-tahun. Maafkan Hamid, Ibu. Tapi Hamid tidak bisa untuk melupakan perasaan Hamid kepada Zainab.”

Bibi Mariam        : “Ibu tidak mau tahu, Hamid. Kau tetap harus melupakannya, sesulit apapun itu. Kalau tidak kita akan mendapatkan masalah besar Hamid.”

 

Hamid pun merasa sangat bingung dan tertekan mengenai perasaannya. Sementara itu, tibalah hari di mana Haji Mansyur akan menagih janji kepada Haji Iskandar mengenai lamarannya kepada Zainab. Haji Mansyur tidak datang sendiri tetapi bersama istri dan kedua anaknya. Haji Mansyur dan istrinya berbicara dengan Orangtua Zainab sedangkan kedua anaknya berbicara dengan Zainab.

Haji Mansyur     : “Bagaimana Haji Iskandar, apakah Zainab bersedia menikah dengan saya?”

Haji Iskandar      : “Zainab bersedia menikah dengan anda, tetapi dia tidak ingin menikah dalam waktu dekat.”

Haji Mansyur     : “Jadi, kapan tepatnya dia siap untuk menikah dengan saya?”

Hj. Zulaikha         : “Dia mengatakan akan siap 2 bulan lagi, Haji Mansyur. Kami harap anda bisa menunggu. Tapi sebelumnya saya ingin menanyakan kepada Hj. Salimah apakah beliau benar-benar merestui anda untuk menikah lagi?”

Hj. Salimah          : “Jika itu memang keinginan suami saya. Saya setuju-setuju saja, asalkan dia bahagia, saya dan anak-anak juga akan bahagia. Hj. Zulaikha tidak perlu khawatir akan hal itu.”

Hj. Zulaikha         : “Syukurlah kalau begitu. Saya harap kita bisa menjadi keluarga yang baik.”

Hj. Salimah          : “Tenang saja Hj. Zulaikha semuanya akan baik-baik saja dan kita akan menjadi satu keluarga. “

Haji Mansyur     : “Baiklah, aku akan menunggu selama 2 bulan. Tapi ingat, jangan sampai kau melanggar janji karena saya paling tidak suka dengan orang yang suka melanggar janji.”

Haji Iskandar      : “Tenang saja, Haji Mansyur. Kami tidak akan melanggar janji.”

 

Sementara itu, di dalam rumah. Farida dan Salma berbicara pada Zainab, namun tidak secara baik-baik.

Farida                                    : (Mendorong lengan Zainab) “Hei Zainab. Apa yang kau lakukan pada Ayahku, sehingga dia sangat ingin menikah denganmu. Padahal kau sama sekali tidak pantas untuknya.”

Salma                    : “Kau pasti merayunya sehingga dia seperti itu. Ayo mengaku saja, jangan hanya diam.”

Zainab                   : “Sumpah, saya tidak pernah seperti itu dan asal kalian tahu saya tidak pernah setuju menikah dengan Ayah kalian karena saya sudah mencintai orang lain.”

Farida                                    : “Kau tidak perlu bohong. Kau pikir kami akan percaya?”

Zainab                   : “Saya tidak berbohong. Memang seperti itu kenyataannya.”

 

Annisa yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Zainab dan membela Zainab, tetapi Zainab berlari keluar rumah.

Annisa                  : “Apa yang kalian lakukan? Seenaknya saja berbicara seperti itu.” (berusaha memanggil Zainab) “Zainab!!”

Salma                    : “Siapa kamu? Ikut campur saja dengan urusan orang.”

Annisa                  : “Kalian itu yang siapa? Ini rumah Zainab. Seenaknya saja kalian berbicara seperti ini. Lebih baik kalian sekarang pergi. Pergi dari rumah ini.”

Farida                                    : “Baiklah kami akan pergi dari rumah ini, dan tolong sampaikan pada Zainab jangan pernah berani untuk menikah dengan Ayah saya. Ayo Salma kita pergi dari rumah ini”

Salma                    : “Ayo Kak. Di sini panas sekali.”

Annisa                  : “Pergi sana, pergi yang jauh dan jangan pernah kembali lagi.”

 

Zainab berlari keluar rumah dengan deraian air mata dan tanpa sengaja bertemu dengan Hamid.

Hamid                   : “Ada apa denganmu Zainab? Kau baik-baik saja? Mengapa kau menangis?”

Zainab                   : (Menghapus air matanya) “Saya tidak apa-apa Hamid.”

Hamid                   : “Jangan berbohong, Zainab. Apa karena masalah pernikahanmu dengan Haji Mansyur?”

Zainab                   : “Bagaimana kau tahu tentang masalah itu, Hamid?”

Hamid                   : “Tidaklah penting bagaimana saya tahu, tetapi Zainab apakah kau setuju dengan pernikahan itu?”

Zainab                   : “Saya tidak pernah setuju dengan pernikahan itu Hamid, tetapi Ayah memaksa saya, saya tidak mau menjadi anak durhaka dengan melawan permintaan. Karena bagaimana pun saya mau melawan, saya tidak akan bisa menolaknya”

Hamid                   : “Saya mengerti Zainab. Lebih baik kau menuruti keinginan orangtua mu.”

Zainab                   : “Tapi Hamid. Saya ..”

Hamid                   : “Saya tahu Zainab. Tetapi kita harus melupakan perasaan kita masing-masing dengan begini kita akan tetap bertahan hidup. Saya permisi dulu, Zainab.”

Zainab                   : “Hamid!”

 

Hari-hari kian berlalu, karena tidak kuat menahan beban. Zainab pun jatuh sakit dan semakin hari keadaannya semakin buruk, dan tibalah hari di mana penyakitnya semakin parah. Zainab tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal dunia. Hal ini pertama kali diketahui oleh Annisa.

Annisa                  : (mengetuk pintu kamar Zainab) “Zainab, ini saya Annisa. Saya membawakan obat untuk mu. Sudah saatnya kau meminum obat. Zainab?” (Membuka pintu dan terkejut) “Astagfirullahal Adzim, Zainab bangun Zainab bangun. Paman, Bibi, Bibi Mariam. Zainab bangun, ayo bangun.”

Haji Iskandar      : “Ada apa Annisa, mengapa kau berteriak? Astaga Zainab, ada apa dengan Zainab, Annisa?

Annisa                  : (Terisak-isak) “Saya tidak tahu paman, ketika saya masuk, Zainab sudah seperti ini.”

Hj.Zulaikha          : (memeriksa napas dan denyut nadi Zainab) “Inaillahi wa inalillahi roji’un. Zainab!!kenapa kau pergi Zainab, maafkan Ayah dan Ibu, Zainab.” (menangis)

 

Setelah Zainab meninggal, Haji Iskandar tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya atas kematian anak semata wayangnya, Zainab. Pernikahan Zainab dan Haji Mansyur pun akhirnya batal terlaksana. Hamid yang sangat mencintai Zainab pun akhirnya memutuskan untuk menyusul kepergian Zainab yaitu dengan cara meminum racun yang akhirnya membuatnya kehilangan nyawanya.

Hamid                   : “Tidak ada gunanya lagi, saya hidup di dunia ini. Zainab, saya sangat mencintaimu.” (meminum racun)

Bibi Mariam pun khawatir dengan keadaan Hamid lalu memeriksa keadaan Hamid di kamarnya, dan betapa terkejutnya Bibi Mariam ketika melihat Hamid yang sudah tidak bernapas dengan botol racun di tangannya.

Bibi Mariam        : “Hamid!!!!mengapa kau meninggalkan Ibu, Nak? Hamid bangun.” (menangis namun tidak dapat berbuat apa-apa)

 

Inilah akhir dari cerita KASIH TAK SAMPAI antara Hamid dan Zainab. Semoga kita semua dapat memetik hikmah dari kisah ini.

 

Cinta

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

Kahlil Gibran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GURU FISIKAKU : MR. RUDY HILKYA

Standar

Sudah lama sekaliii blog saya tidak terurus, sampai berdebu seperti ini karena tidak ada hal-hal baru yang saya sering post-kan lagi. Namun, untuk kali ini saya akan membuat 1 tulisan di blog saya mengenai salah seorang Guru di SMAN 2 Palangkaraya yang mengajar fisika di kelas XI, yaitu Pak Rudy Hilkya :D.

Sebenarnya saya sudah mengenal Pak Rudy (walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung)  sebelum masuk dan menjadi salah seorang murid di SMAN 2 Palangkaraya. Pada saat itu, saya masih kelas IX SMP, letak SMP saya bersebelahan dengan SMAN 2 Palangkaraya. Pada waktu itu, saya memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan beliau, tetapi saya sering menemani teman saya untuk mencari bahan tugas di warnet mengenai fisika, dan setiap mencari tugas teman saya itu selalu membuka alamat web www.fisikarudy.com . saya pun penasaran dan menanyakan kepada teman saya itu, siapakah Pak Rudy itu? Teman saya hanya mengatakan Pak Rudy itu adalah guru fisika yang susah ditebak dan saya akan tahu sendiri ketika saya bersekolah di SMAN 2 Palangkaraya. Teman saya itu sekarang duduk di kelas XII IA, tepatnya di kelas XII IA 2, orangnya cantik sekali dan baik hatinya, namanya adalah Pamela Dewi Widuri. Dia ini adalah teman saya dari kecil sekaligus tetangga saya dan juga merupakan tetangga dari Evan Kristanto. Kesan pertama saya ketika mendengar cerita itu dan melihat foto beliau yang ada di blog beliau, saya mengira beliau itu adalah guru yang galak dan termasuk guru killer (Peace, Pak 😀 )

Saat saya bersekolah di SMAN 2 Palangkaraya, saya agak kecewa ketika tahu bukan Pak Rudy yang mengajar fisika di kelas X, dan selama saya belajar di kelas X, nilai fisika saya, sangat jarang sekali di atas nilai 80 (curhat dikit pak :D). Hal itu terjadi karena, saya termasuk orang yang susah mengikuti pelajaran apabila guru yang mengajarkan pelajaran itu menjelaskan pelajaran secara bertele-tele tidak langsung ke pokok materinya.

Pada saat kelas X, Pak Rudy memang tidak pernah mengajar di dalam kelas, tetapi Pak Rudy pernah mengajari saya materi fisika, kalau tidak salah mengenai Termodinamika dan fisika modern ketika saya mengikuti perlombaan yang diadakan di Universitas Lambung Mangkurat. Kesan pertama saya yang dulu saya pikirkan pun hilang, ternyata Pak Rudy itu bukan termasuk guru yang galak tetapi termasuk guru yang baik dan perhatian. Saya pun sekarang mengerti makna dari kalimat “Don’t judge the book by the cover”. 😀

Tibalah saatnya saya naik ke kelas XI, dan memilih jurusan IPA dan sekarang sudah hampir 1 semester saya belajar di kelas XI IA 3, walaupun hampir setengah murid di kelas ini adalah teman-teman saya waktu di kelas X, tetapi tetap saja saya harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan kelas termasuk dengan para guru yang mengajar di kelas XI.

Setelah saya mengenal Pak Rudy secara lebih dekat, menurut saya, Pak Rudy itu adalah orang yang humoris, karena di sela-sela pelajaran beliau sering mengeluarkan bahan candaan yang membuat kami selalu tertawa dan bersemangat dalam belajar. Pak Rudy juga termasuk guru yang perhatian, buktinya beliau bisa memberikan penilaian terhadap masing-masing siswa dengan cukup akurat, dan juga beliau pernah meliburkan sejenak pelajaran fisika karena melihat kami yang sedang kelelahan sehabis pelajaran olahraga dan malah menceritakan suatu cerita yang membuat kami tersentuh dan bahkan ada di antara kami yang sampai menitikkan air mata setelah mendengar cerita itu, termasuk saya sendiri 😀 . Pak Rudy merupakan salah seorang guru yang misterius, setiap tiba pelajaran fisika saya selalu merasa was-was menantikan apa yang beliau ajarkan. Seperti yang tadi saya katakan, saya termasuk orang yang susah mengikuti pelajaran khususnya pelajaran fisika apabila guru yang mengajarkan pelajaran itu menjelaskan pelajaran secara bertele-tele tidak langsung ke pokok materinya, namun sejak mengenal Pak Rudy dan cara mengajarnya, saya merubah pandangan saya terhadap pelajaran fisika. Sekarang saya selalu bersemangat ketika pelajaran fisika, walaupun terkadang saya merasa terbebani dengan tugas-tugas yang Pak Rudy berikan namun saya selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan saya :D.

Pak Rudy itu orangnya fashionista dan juga keren, hahaha 😀 . Penampilan Pak Rudy selalu rapi, dengan gaya rambut yang selalu berubah-ubah dan terkadang memakai kacamata yang semakin membuat cihuyyy penampilannya :D. Pak Rudy adalah guru yang serba bisa, beliau bisa mengajari kami fisika, matematika, astronomi dan sejarah. Beliau memiliki imajinasi yang luar biasa canggih. Beliau bisa memikirkan suatu ide tentang alat komunikasi canggih masa depan J dan hal itu sering membuat kami semua tertawa ketika beliau mempraktekan cara kerja alat itu di depan kami semua.

Fisikanya Pak Rudy itu memang beda daripada yang lain. Materi-materi yang beliau ajarkan paling T.O.P B.G.T. Asyik banget deh pokoknya belajar Fisika bareng Pak Rudy. Sukses terus buat Pak Rudy, dan terima kasih atas pelajaran-pelajaran yang bapak berikan pada semester ini kepada kami semua. Saya tunggu kejutan-kejutan baru dari bapak pada hari selasa dan rabu semester depan 😀

Mungkin hanya itu yang dapat saya tuliskan mengenai Pak Rudy. Berikut ini ada beberapa foto mengenai PAK RUDY 😀 yang saya ambil secara diam-diam sewaktu pelajaran fisika (Entah Pak Rudy sadar atau tidak) , tapi maaf sebelumnya ya Pak 😀

Roket ku Tercinta…

Standar

ROKET  TERCINTA………………….HUHU!!!!

Akhirnya dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, roket angin kami selesai juga. Yessss!!!! Dengan kerja keroyokan  nonstop siang dan malam, dengan segenap rasa percaya diri yang masih kami miliki. Kami tampilkan roket kami….jreng..jreng!!

                Roket kami ini bernama “VIVER” yang tidak lain dan tidak bukan adalah singkatan nama kami bertiga, yaitu Evan Kristanto atau yang lebih akrab kami panggil dengan sebutan “Kage” yang lemah lembut, gemulai dan kalau diputarkan lagu girlband korea T-ara dan F(x) langsung spontan mengikuti gaya tarian mereka, tapi dia bisa diandalkan dan bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan..hahahaha Peace! J , Vivi  Monica yang kadang-kadang namanya berubah menjadi “Vimon atau Aceng” (tapi Cuma saya saja yang diperbolehkan memanggilnya dengan panggilan seperti itu, karena saya udah punya SIK atau Surat Ijin Khusus), suhu badannya yang selalu dingin apalagi kalau lagi nerveous, dinginnya mengalahkan es batu, dan hampir mirip dengan Kage, Vivi juga sangat menyukai boyband dan girlband korea serta seringkali meghapalkan tarian-tarian mereka dan memamerkannya di depan saya. Dan terakhir adalah saya sendiri. Saya orangnya suka gagap jika berbicara di depan orang banyak atau di depan orang yang lebih tua dari saya, untunglah saya punya teman seperti Kage dan Vivi yang memang selalu percaya diri walaupun kadang-kadang jadi putra dan putri pemalu. Saya juga sangat menyukai semua hal tentang korea, walaupun tidak pernah menginjakkan kaki saya yang indah ini di sana (Pengen banget rasanya pergi ke sana, tapi apa daya takadauang T.T). Tidak seperti kedua teman saya itu, saya memang tidak terlalu suka menari, tapi sering nyanyi di kamar mandi..hahahahaha!!!

Kembali lagi ke masalah Roket Tercinta!!

Kami memang mencintai roket kami ini beserta launcernya karena pengorbanan yang terkandung dalam roket ini sangatlah besar. Dimulai dari pengorbanan waktu (Sampai saya gak bisa taraweh..huhu), tenaga (gergaji pipa, ngelem pipa, gunting map untuk sayap roket, membuat kerucut roket dan mengambil pasir untuk pemberat) dan pikiran (mikirin bagaimana caranya supaya roketnya bisa terbang, bagaimana roketnya bisa masuk ke peluncur). Semua itu sangatlah melelahkan bagi kami, tapi juga menyenangkan. Ada-ada saja yang terjadi saat pembuatan roket berlangsung. Roket kami ini juga sempat memakan korban yaitu Kage dan pompa milik Ayah saya. Kaki Kage terluka karena lem tembak yang mengenai kakinya tapi sekarang lukanya sudah lumayan membaik dan pompa milik ayah    saya rusak karena kami terlalu semangat memompanya (untung saja masih dapat pinjaman pompa dari teman Ayah saya  hehehe…). Roket ini khusus kami dedikasikan kepada Pak Rudy Hilkya yang membantu kami untuk mendapatkan inspirasi, yang telah mengajarkan kami selama berada di kelas XI, yang selalu menyelipkan canda dan tawa di sela-sela pelajaran, dan yang selalu memberikan kami motivasi agar dapat menjalani hidup kami dengan sebaik mungkin serta membuat kami sadar (khususnya saya) bahwa tidak ada salahnya kalau kita merasa takut untuk melakukan sesuatu.

Roket ini mungkin memang bukan yang terbaik dan sangat jauh dari kesempurnaan. Tetapi, roket ini berarti besar bagi kami. Betapa senangnya perasaan kami ketika melihat roket kami ini berhasil terbang dengan jarak yang lumayan jauh. Ditemani dengan sinar rembulan yang sangatlah indah namun tanpa bintang, kami berloncat-loncat gembira seperti anak TK  ketika melihat roket kami meluncur  dan menjadi seperti orang kebingungan ketika tidak berhasil menemukan roket kami yang sudah terbang entah kemana, tapi syukur Alhamdulillah dengan bantuan senter kami selalu berhasil menemukannya. Sungguh pengalaman yang sangat menggembirakan dan unik. Roket ini akan selalu kami kenang dalam hati kami masing-masing.

Berikut ini adalah bahan-bahan yang kami gunakan dalam membuat Roket beserta Launcernya. J

–          Pipa PVC ½ dan ¾ inchi.

–          Lem pipa

–          Lem tembak

–          Berbagai macam sambungan pipa, mulai dari sambungan L, sambungan T, sambungan ½ dan ¾ sampai sambungan Palang.

–          Map Plastik yang keras

–          Fiber

–          Tutup pipa ukuran ½ dan ¾ inchi.

–          Pentil sepeda

–          Keran

–          Lakban hitam

–          Pasir (Sebagai Pemberat)

Alat-alat yang kami gunakan J

–          Gergaji Pipa

–          Pisau

–          Gunting besi

–          Pompa

–          Tembakan lem

–          Ampelas kasar dan halus

Lampiran

 

akhirnya…selesailah sudah..

Sampai jumpa….

Hello world!

Standar

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.